Strategi Tason
Di
ruang tamu dengan kursi jati motif kembang dua wanita paruh baya duduk
berhadap-hadap sedikit merunduk “ Saya tak bisa berbuat banyak atas perkataan
suami saya” terisak bu Rahmi di hadapan tuan rumah, bu Sartika tanpa canggung.
“Mirda belum menikah juga, saya malu sama tetangga” aku nya.
“Sudahlah
bu, “ Bu Sartika memegang sebentar lengan Bu Rahmi.
“Mirda
pun sepertinya acuh atas statusnya yang belum juga menikah.” Menekur tapak tangan
kananya seperti menyesal.
“Kalau
sudah jodoh tak lari ke mana” ucap bu Sartika membesarkan hati. Mengapa tidak
ku nikahkan saja anakku, Fitrah, pikir bu Sartika. Fitrah yang semenjak pulang
dari Bangka semakin membuat repot saja tingkah lakunya. Suka memarahi
adik-adiknya dengan tanpa alasan jelas.
“Berapa
memangnya usia Mirda?” tanya bu Sartika
Bu
Rahmi meluruskan posisi duduknya lalu bersandar lepas, “Dua puluh sembilan.”
Bu
Mirda berpikir sejenak. Ada tanya yang menyamakan persepsi- bu Rahmi. Di mana
juga mengenal bahwa bu Santika sosok popular di masyarakat lingkungan Jalan
Letnan Muhidin pun mempunyai anak laki-laki dari sekian macam anak bujang bu
Santika.
“Mengapa
tidak ditasonkan[1]
saja Mirda dengan Fitrah?” ide bu Sartika dengan mata yakin.
Harapan
yang sama dengan harapku, pikir bu Rahmi dalam hati. “Bagaimana caranya?”
tanggap bu Mirda cepat. Dia telah menyetujui dan berharap banyak, karena
tawaran bu Sartika bukan sekedar tawar obralan tetapi juga menuju ke arah
sebuah anugerah bagi keluarganya. Begitu pikir bu Rahmi, namun Mirda, anak
gadisnya belum mengetahui strategi dua pihak ibu ini. Mirda, mudah, pikir bu
Rahmi. Begitu juga pikiran bu Sartika mengenai Fitrah atas perjodohan ini.
Mudah.
Bu Rahmi Berharap Mirda Suka
Jalan
yang dilalui tadi semakin tidak mempengaruhi sakit pada kakinya. Bu Rahmi
berbunga-bunga. Mirda akan segera menikah, begitu pikirannya. Tidak digubrisnya
lagi kabut-kabut malu atas celoteh teman-teman pengajian Minggu pagi.
Pak
Latif menyambut istrinya yang sumringah. Dia heran, begitu drastis perubahan
terjadi pada raut wajah istrinya. Padahal tadi, ketika pergi tanpa pamit, marah
dan kesal bahkan tetes air mata menyertainya. “Gerangan apakah?” ucap pak Latif
dalam hati.
Wajah
gembira istrinya telah melepaskan semua lelah mencari, dari sepanjang tengah
hari istrinya tak kembali akibat pertengkaran pagi itu. Sehingga berucap kasar
pak Latif, “Mengapa tidak ‘kamu’ saja menjadi tuhan dan mencarikan jodoh untuk
Mirda!” kenang pak Latif atas ucapannya pagi lalu.
Wajah
senang bu Rahmi semakin mendekat ke suaminya, “Mana Mirda?” tanyanya tergesa.
Senang atas hasil obrolannya dengan bu Sartika telah melepaskan semua ucapan
kasar bang Latif yang sangat jarang.
“Mengajar
(ngaji)...” jawab Pak Latif, “darimana Mar[2]?” meneruskan keheranannya
yang belum terjawab. Apa gerangan terjadi pada istri tercintanya ini.
Bu
Rahmi mengambil duduk tepat di hadapan suaminya, “Dari rumah bu Sartika. Kami
berbincang lama...” jawab bu Rahmi
Pak
Latif menutup buku di pangkuannya. Dia merasakan hal ini masih berhubungan
dengan kemarahan tadi pagi, Mirda. “Tentang Mirda?” tanya pak Latif meyakinkan
prediksinya.
Buru-buru
bu Rahmi duduk di hadapan suaminya. Masih dengan wajah ceria,”Bu Sartika
berniat menikahkan anaknya ke Mirda” ujar bu Rahmi dengan mata binar senang.
Pak Latif mengerenyit dahi. Bu Rahmi menganggap itu adalah pertanyaan.
“Sepanjang
hari saya di rumah bu Sartika...” aku bu Rahmi. Memperkenalkan perubahan wajah
baru yang berbeda dari beranjak marah dan pergi dari rumah tadi.
“Hmm...”
pak Latif mengangguk-angguk. “Ya...”sahut pak Latif lemah, ”Seharusnya tidak
lelah berputar menyetir mencarimu dalam panik hingga ke Plaju[3] sana, Mar...” ucap pak
Latif datar.
“Maaf...”
ucap bu Rahmi merunduk. Mengakui kesalahannya; telah membuat cemas suami.
Pak
Latif memutar suasana, “Bu Sartika, pak Haji, kah?” tanyanya
Terlihat
oleh pak Latif wajah tadi.
“Iya,
bu Sartika...” tanggap bu Rahmi.
Pak
Latif berusaha agar terlihat serius. Mengubah sandar menjadi tegak dan wajah
penuh perhatian- tampak ingin mendengar cerita dari sang istri. Bu Rahmi
semangat, kekesalan kecil pertengkaran telah hancur di masing-masing hati
orangtua Mirda.
Pada
saat yang sama Mirda mendapat kado berukuran besar dari mama Yogi, murid privat
mengaji-nya. Sebuah Magic Jar putih motif kembang dengan pegangan biru muda
teduh.
“Kita
serahkan kepada Allah saja” tutup pak Latif menyemangati sang istri dengan
suara datar. “Akan ada jalan untuk Mirda, Mar?” senyum pak Latif terhadap
permainan Tuhan ke sekian kali tak disangka atas keberuntungan yang terlalu
sering.
Azan
Asar bergema, telepon berdering. Bu Rahmi beranjak dari hadapan pak Latif-
menyambut telepon di ruang tengah. Habis asar-pukul empat kami ke sana, simpul
percakapan telepon terdengar oleh pak Latif.
Mirda mengenang kekesalan terhadap Fitrah
Membawa
kotak berisi Magic Jar. Mirda masuk langsung menuju dapur. Sepi, Abah dan Emak
pastinya sedang asar, pikir Mirda ke bangunan masjid Al-Fadhillah seberang
rumahnya.
Perasaan
senang bukan hanya dari magic yang diperolehnya. Hari ini , hatinya seperti
terantuk sebuah ruang di mana pernah ia rasakan meski lupa kapan. Cahaya
semakin terang pada setiap lalu mata kaki berjalan namun bayangan-bayangan
kelam semakin jelas wujudnya.
“Braash...”
kasur peer kamar tidur Mirda menerima penat seharian. Setelah ini pukul 5
mengisi TPQ, langit-langit kamar mengingatkan.
Suara
derit terali pintu terbuka disertai ucapan salam. Mirda menjawab dari balik
kamar depan tanpa menghampiri Emaknya, bu Rahmi. Dia terus meluruskan tulang
punggungnya yang semakin dihamparkan semakin terasa penat dan nyaman.
“Sudah
pulang...” sapa bu Rahmi nongol senyum menyibak tabir kamar.
Mirda
bangun, “Sudah, Mak... Oh, iya, ada majik jer baru. Saya letakkan di meja
makan. Coba emak lihat...” sambut Mirda dengan senyuman
Bu
Mirda menanggapi dengan, O lemah, lalu masuk duduk di samping Mirda yang pada
sisi ranjang. “Emak dan Abah mu mau melihat motor[4]. Ada tarikan[5]... Jaga rumah, ya...“ buka
bu Rahmi.
“Oh,
iya Mak...” jawab Mirda sedikit kaget atas emaknya yang langsung menghampiri.
Biasanya cukup teriak dan bergegas. Aneh, tetapi Mirda senang dapat melihat
wajah dengan alis tebal lebih dekat. Wanita yang masih menyisakan cantik pada
usia setengah abad di hadapannya.
Satu
lagi, “Coba tanyakan foto-foto acara lomba azan minggu lalu ke bu Sartika.
Sudah selesai nampaknya...” pinta emak.
Seorang
pria berkalung kamera, Fitrah namanya, lewat cukup lama dari emak mengatakan
itu. Pria yang menyebalkan bila diingat sambutannya ketika Mirda pergi
menenangkan diri di Bangka dengan bu Sartika.
“Oh,
iya, akan saya tanyakan...” Mirda meng-iyakan.
“Siapa
nama anak bu Sartika yang (me)moto acara itu? “ tanya bu Rahmi
“Fitrah,
Mak. Dia barusan pulang dari Aceh. Menjadi sukarelawan pada bencana gempa dan
tsunami,” jawab Mirda beranjak memperbaiki letak weker yang tidak apa-apa; berusaha
biasa agar raut halus kesalnya terhadap Fitrah tidak nampak oleh emak.
“Dia
yang kemarin mengajar di Bangka itu, kan?” tanya lagi
“Iya,”
jawab Mirda datar
“Sudah
menikah belum ia-nya?” emak lagi
“Belum.
Kenapa, Mak?” Mirda mulai curiga atas laku dan tanya emak yang tidak biasa.
Emak tertarik dengan Fitrah untukku. Menjodohkanku, simpul Mirda cepat.
“Ah
tidak, nanya saja. Rupanya kamu cukup mengenal dia” emak menutup bicara. Bu
Rahmi merasa beberapa langkah bahkan tujuan obrolannya telah selesai.
Meninggalkan tanya di Mirda mengingat selama ini Mirda sering mendapat
singgungan tentang kawin dari emak.
Sosok
Fitrah semakin tampak. Obrolan dengan emak menyiratkan ketukan pada jantungnya
sehingga berdegup sedikit cepat dari biasa.
“Jangan
lupa ke rumah bu Sartika, ya...” emak berlalu meninggalkan dengan jawaban iya
Mirda; ditinggalkan dalam rasa tak karuan namun jelas.
Bahkan,
sosok Fitrah semakin tampak mendekat menjepret dengan kamera yang mana dirinya
berdiri di depan bedug jati tanpa ditemani anak-anak peserta lomba azan,
sendiri. Rasa apa ini, tarik nafas Mirda menyadarkan.
Kesan pertama bagi Fitrah,
ke-sekian bagi Mirda
Mandi,
Mirda bangun dari tempat tidurnya. Beberapa menit lalu klakson permisi.
Handpone berbunyi, layar tampak ‘Ranti memanggil...’
Mirda
: “Halo Ranti bagaimana kabar?”
Ranti
: “Beginilah Mir...(murung)”
Mirda
: “Begini bagaimana?”
Ranti
: “Aku sudah seminggu di jawa, lari dari
rumah ...”
Mirda
: “Hah! (tertahan) Ada apa memangnya,
Ran?”
Ranti : “Tidak ada apa-apa. Minggat menemui Hasan,
meminta dia menikahiku. Aku telah menulis surat ke orangtuaku kok.”
Mirda
: “Jadi?” (meminta kisah lebih luas)
Ranti
: “Hasan pun menikahiku. Pakai wali hakim. Sekarang aku sudah menikah dengan
Hasan. Aku menjadi istri Hasan. Tetapi masalahnya, Hasan tidak bekerja jadi ku
harus kembali ke Palembang untuk mencarikan kerja buat dia.”
Mirda
: “Sebentar. Kamu telah menikah. Pake wali hakim. Bukan kah ayahmu masih ada.
Apakah kamu sudah meminta izin kepadanya. Kamu kan perempuan, Ranti? Apakah
boleh menikah begitu saja?” (mengerenyitkan dahi)
Ranti
: “Iya sih. Tetapi dalam surat minggat yang ku tulis. ‘Agar izinkan ku untuk
menikah dengan Hasan’. Ku rasa hal tersebut cukup jelas bagi ayah dan ibuku”
Mirda
: “Tapi, kan...”
Ranti
: “Sudahlah Mir. Kamu tolong cari info kerja buat tamatan SMP ya. Kerja apa
sajalah.
Mirda
: “O, iya. Nanti kalau ada kan ku kasitau ke kamu...”
Ranti
: “Makasih Mir, Assalamualaikum”
Mirda
: “Wa’alaikumsalam...”
Terawang
mata lurus Mirda memandang sosok Ranti, teman dekatnya yang cukup mengerti hal
berkenaan dengan syariat. Dia telah melakukan pelanggaran hukum agama, apa yang
telah kamu perbuat, Ranti, geleng Mirda.
Menuju Kesan
Mandi
memang menyegarkan, tukas Mirda dalam hati. Dirinya kembali utuh. Memandang
cermin besar pada meja rias kamarnya sembari mengenakan pakaian panjang hijau
muda. Kulit putihnya semakin menambah terang dirinya.
Sorak
anak-anak bermain di pelataran masjid menyambut ketika Mirda membuka pintu
depan.
Ketika
keluar dari pagar, bu Laila menyapa,”Cantik benar Ustazah hari ini. Mau
kemana?” sentuh lembut pada lengannya ketika menutup pagar rumah.
Mirda
menoleh, “Oh, bu Laila. Mau ke komplek seberang. Ada urusan sedikit.”
“Ooo,
gitu. Iyalah, hati-hati jeng ya. Komplek seberang banyak keranjang lho...”
bisik bu Laila, mengedipkan mata tersenyum lalu berlalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar