Rabu, 20 Maret 2013

Sekeping Penting (sebuah kisah nyata)


Strategi Tason
Di ruang tamu dengan kursi jati motif kembang dua wanita paruh baya duduk berhadap-hadap sedikit merunduk “ Saya tak bisa berbuat banyak atas perkataan suami saya” terisak bu Rahmi di hadapan tuan rumah, bu Sartika tanpa canggung. “Mirda belum menikah juga, saya malu sama tetangga” aku nya.
“Sudahlah bu, “ Bu Sartika memegang sebentar lengan Bu Rahmi.
“Mirda pun sepertinya acuh atas statusnya yang belum juga menikah.” Menekur tapak tangan kananya seperti menyesal.
“Kalau sudah jodoh tak lari ke mana” ucap bu Sartika membesarkan hati. Mengapa tidak ku nikahkan saja anakku, Fitrah, pikir bu Sartika. Fitrah yang semenjak pulang dari Bangka semakin membuat repot saja tingkah lakunya. Suka memarahi adik-adiknya dengan tanpa alasan jelas.
“Berapa memangnya usia Mirda?” tanya bu Sartika
Bu Rahmi meluruskan posisi duduknya lalu bersandar lepas, “Dua puluh sembilan.”
Bu Mirda berpikir sejenak. Ada tanya yang menyamakan persepsi- bu Rahmi. Di mana juga mengenal bahwa bu Santika sosok popular di masyarakat lingkungan Jalan Letnan Muhidin pun mempunyai anak laki-laki dari sekian macam anak bujang bu Santika.
“Mengapa tidak ditasonkan[1] saja Mirda dengan Fitrah?” ide bu Sartika dengan mata yakin.
Harapan yang sama dengan harapku, pikir bu Rahmi dalam hati. “Bagaimana caranya?” tanggap bu Mirda cepat. Dia telah menyetujui dan berharap banyak, karena tawaran bu Sartika bukan sekedar tawar obralan tetapi juga menuju ke arah sebuah anugerah bagi keluarganya. Begitu pikir bu Rahmi, namun Mirda, anak gadisnya belum mengetahui strategi dua pihak ibu ini. Mirda, mudah, pikir bu Rahmi. Begitu juga pikiran bu Sartika mengenai Fitrah atas perjodohan ini. Mudah.

Bu Rahmi Berharap Mirda Suka
Jalan yang dilalui tadi semakin tidak mempengaruhi sakit pada kakinya. Bu Rahmi berbunga-bunga. Mirda akan segera menikah, begitu pikirannya. Tidak digubrisnya lagi kabut-kabut malu atas celoteh teman-teman pengajian Minggu pagi.
Pak Latif menyambut istrinya yang sumringah. Dia heran, begitu drastis perubahan terjadi pada raut wajah istrinya. Padahal tadi, ketika pergi tanpa pamit, marah dan kesal bahkan tetes air mata menyertainya. “Gerangan apakah?” ucap pak Latif dalam hati.
Wajah gembira istrinya telah melepaskan semua lelah mencari, dari sepanjang tengah hari istrinya tak kembali akibat pertengkaran pagi itu. Sehingga berucap kasar pak Latif, “Mengapa tidak ‘kamu’ saja menjadi tuhan dan mencarikan jodoh untuk Mirda!” kenang pak Latif atas ucapannya pagi lalu.
Wajah senang bu Rahmi semakin mendekat ke suaminya, “Mana Mirda?” tanyanya tergesa. Senang atas hasil obrolannya dengan bu Sartika telah melepaskan semua ucapan kasar bang Latif yang sangat jarang.

“Mengajar (ngaji)...” jawab Pak Latif, “darimana Mar[2]?” meneruskan keheranannya yang belum terjawab. Apa gerangan terjadi pada istri tercintanya ini.
Bu Rahmi mengambil duduk tepat di hadapan suaminya, “Dari rumah bu Sartika. Kami berbincang lama...” jawab bu Rahmi
Pak Latif menutup buku di pangkuannya. Dia merasakan hal ini masih berhubungan dengan kemarahan tadi pagi, Mirda. “Tentang Mirda?” tanya pak Latif meyakinkan prediksinya.
Buru-buru bu Rahmi duduk di hadapan suaminya. Masih dengan wajah ceria,”Bu Sartika berniat menikahkan anaknya ke Mirda” ujar bu Rahmi dengan mata binar senang. Pak Latif mengerenyit dahi. Bu Rahmi menganggap itu adalah pertanyaan.
“Sepanjang hari saya di rumah bu Sartika...” aku bu Rahmi. Memperkenalkan perubahan wajah baru yang berbeda dari beranjak marah dan pergi dari rumah tadi.
“Hmm...” pak Latif mengangguk-angguk. “Ya...”sahut pak Latif lemah, ”Seharusnya tidak lelah berputar menyetir mencarimu dalam panik hingga ke Plaju[3] sana, Mar...” ucap pak Latif datar.
“Maaf...” ucap bu Rahmi merunduk. Mengakui kesalahannya; telah membuat cemas suami.
Pak Latif memutar suasana, “Bu Sartika, pak Haji, kah?” tanyanya
Terlihat oleh pak Latif wajah tadi.
“Iya, bu Sartika...” tanggap bu Rahmi.
Pak Latif berusaha agar terlihat serius. Mengubah sandar menjadi tegak dan wajah penuh perhatian- tampak ingin mendengar cerita dari sang istri. Bu Rahmi semangat, kekesalan kecil pertengkaran telah hancur di masing-masing hati orangtua Mirda.
Pada saat yang sama Mirda mendapat kado berukuran besar dari mama Yogi, murid privat mengaji-nya. Sebuah Magic Jar putih motif kembang dengan pegangan biru muda teduh.
“Kita serahkan kepada Allah saja” tutup pak Latif menyemangati sang istri dengan suara datar. “Akan ada jalan untuk Mirda, Mar?” senyum pak Latif terhadap permainan Tuhan ke sekian kali tak disangka atas keberuntungan yang terlalu sering.
Azan Asar bergema, telepon berdering. Bu Rahmi beranjak dari hadapan pak Latif- menyambut telepon di ruang tengah. Habis asar-pukul empat kami ke sana, simpul percakapan telepon terdengar oleh pak Latif.

Mirda mengenang kekesalan terhadap Fitrah 
Membawa kotak berisi Magic Jar. Mirda masuk langsung menuju dapur. Sepi, Abah dan Emak pastinya sedang asar, pikir Mirda ke bangunan masjid Al-Fadhillah seberang rumahnya.
Perasaan senang bukan hanya dari magic yang diperolehnya. Hari ini , hatinya seperti terantuk sebuah ruang di mana pernah ia rasakan meski lupa kapan. Cahaya semakin terang pada setiap lalu mata kaki berjalan namun bayangan-bayangan kelam semakin jelas wujudnya.
“Braash...” kasur peer kamar tidur Mirda menerima penat seharian. Setelah ini pukul 5 mengisi TPQ, langit-langit kamar mengingatkan.
Suara derit terali pintu terbuka disertai ucapan salam. Mirda menjawab dari balik kamar depan tanpa menghampiri Emaknya, bu Rahmi. Dia terus meluruskan tulang punggungnya yang semakin dihamparkan semakin terasa penat dan nyaman.
“Sudah pulang...” sapa bu Rahmi nongol senyum menyibak tabir kamar.
Mirda bangun, “Sudah, Mak... Oh, iya, ada majik jer baru. Saya letakkan di meja makan. Coba emak lihat...” sambut Mirda dengan senyuman
Bu Mirda menanggapi dengan, O lemah, lalu masuk duduk di samping Mirda yang pada sisi ranjang. “Emak dan Abah mu mau melihat motor[4]. Ada tarikan[5]... Jaga rumah, ya...“ buka bu Rahmi.
“Oh, iya Mak...” jawab Mirda sedikit kaget atas emaknya yang langsung menghampiri. Biasanya cukup teriak dan bergegas. Aneh, tetapi Mirda senang dapat melihat wajah dengan alis tebal lebih dekat. Wanita yang masih menyisakan cantik pada usia setengah abad di hadapannya.
Satu lagi, “Coba tanyakan foto-foto acara lomba azan minggu lalu ke bu Sartika. Sudah selesai nampaknya...” pinta emak.
Seorang pria berkalung kamera, Fitrah namanya, lewat cukup lama dari emak mengatakan itu. Pria yang menyebalkan bila diingat sambutannya ketika Mirda pergi menenangkan diri di Bangka dengan bu Sartika.
“Oh, iya, akan saya tanyakan...” Mirda meng-iyakan.
“Siapa nama anak bu Sartika yang (me)moto acara itu? “ tanya bu Rahmi
“Fitrah, Mak. Dia barusan pulang dari Aceh. Menjadi sukarelawan pada bencana gempa dan tsunami,” jawab Mirda beranjak memperbaiki letak weker yang tidak apa-apa; berusaha biasa agar raut halus kesalnya terhadap Fitrah tidak nampak oleh emak.
“Dia yang kemarin mengajar di Bangka itu, kan?” tanya lagi
“Iya,” jawab Mirda datar
“Sudah menikah belum ia-nya?” emak lagi
“Belum. Kenapa, Mak?” Mirda mulai curiga atas laku dan tanya emak yang tidak biasa. Emak tertarik dengan Fitrah untukku. Menjodohkanku, simpul Mirda cepat.
“Ah tidak, nanya saja. Rupanya kamu cukup mengenal dia” emak menutup bicara. Bu Rahmi merasa beberapa langkah bahkan tujuan obrolannya telah selesai. Meninggalkan tanya di Mirda mengingat selama ini Mirda sering mendapat singgungan tentang kawin dari emak.
Sosok Fitrah semakin tampak. Obrolan dengan emak menyiratkan ketukan pada jantungnya sehingga berdegup sedikit cepat dari biasa.
“Jangan lupa ke rumah bu Sartika, ya...” emak berlalu meninggalkan dengan jawaban iya Mirda; ditinggalkan dalam rasa tak karuan namun jelas.
Bahkan, sosok Fitrah semakin tampak mendekat menjepret dengan kamera yang mana dirinya berdiri di depan bedug jati tanpa ditemani anak-anak peserta lomba azan, sendiri. Rasa apa ini, tarik nafas Mirda menyadarkan.
Kesan pertama bagi Fitrah, ke-sekian bagi Mirda
Mandi, Mirda bangun dari tempat tidurnya. Beberapa menit lalu klakson permisi. Handpone berbunyi, layar tampak ‘Ranti memanggil...’
Mirda : “Halo Ranti bagaimana kabar?”
Ranti : “Beginilah Mir...(murung)”
Mirda : “Begini bagaimana?”
Ranti : “Aku sudah seminggu di jawa, lari dari rumah ...”
Mirda : “Hah! (tertahan) Ada apa memangnya, Ran?”
Ranti  : “Tidak ada apa-apa. Minggat menemui Hasan, meminta dia menikahiku. Aku telah menulis surat ke orangtuaku kok.”
Mirda : “Jadi?” (meminta kisah lebih luas)
Ranti : “Hasan pun menikahiku. Pakai wali hakim. Sekarang aku sudah menikah dengan Hasan. Aku menjadi istri Hasan. Tetapi masalahnya, Hasan tidak bekerja jadi ku harus kembali ke Palembang untuk mencarikan kerja buat dia.”
Mirda : “Sebentar. Kamu telah menikah. Pake wali hakim. Bukan kah ayahmu masih ada. Apakah kamu sudah meminta izin kepadanya. Kamu kan perempuan, Ranti? Apakah boleh menikah begitu saja?” (mengerenyitkan dahi)
Ranti : “Iya sih. Tetapi dalam surat minggat yang ku tulis. ‘Agar izinkan ku untuk menikah dengan Hasan’. Ku rasa hal tersebut cukup jelas bagi ayah dan ibuku”
Mirda : “Tapi, kan...”
Ranti : “Sudahlah Mir. Kamu tolong cari info kerja buat tamatan SMP ya. Kerja apa sajalah.
Mirda : “O, iya. Nanti kalau ada kan ku kasitau ke kamu...”
Ranti : “Makasih Mir, Assalamualaikum”
Mirda : “Wa’alaikumsalam...”
Terawang mata lurus Mirda memandang sosok Ranti, teman dekatnya yang cukup mengerti hal berkenaan dengan syariat. Dia telah melakukan pelanggaran hukum agama, apa yang telah kamu perbuat, Ranti, geleng Mirda.
Menuju Kesan
Mandi memang menyegarkan, tukas Mirda dalam hati. Dirinya kembali utuh. Memandang cermin besar pada meja rias kamarnya sembari mengenakan pakaian panjang hijau muda. Kulit putihnya semakin menambah terang dirinya.
Sorak anak-anak bermain di pelataran masjid menyambut ketika Mirda membuka pintu depan.
Ketika keluar dari pagar, bu Laila menyapa,”Cantik benar Ustazah hari ini. Mau kemana?” sentuh lembut pada lengannya ketika menutup pagar rumah.
Mirda menoleh, “Oh, bu Laila. Mau ke komplek seberang. Ada urusan sedikit.”
“Ooo, gitu. Iyalah, hati-hati jeng ya. Komplek seberang banyak keranjang lho...” bisik bu Laila, mengedipkan mata tersenyum lalu berlalu.

Mirda tersenyum, berjalan ditemani riang petang. Bu Laila seumuran dengannya. Sering curhat. Sehingga Mirda tidak terlalu menanggapi omongan-omongan miring mengenai Laila yang menjadi istri simpanan anggota dewan di Jakarta. Terpenting tidak melanggar norma agama, tampik Mirda dalam hati melaju langkah di mana lalu-lalang wajah lelah selepas kerja muncul sering mengisi senja.

(bersambung...)



[1] Palembang : dipadukan
[2] Kebiasaan pak Latif memanggil nama istri (begitu juga bu Rahmi terhadap pak Latif) dengan panggilan nama anak tertua : Marganda. Kakak laki-laki tertua Mirda
[3] Nama kota di Palembang
[4] Sebutan untuk kapal kayu penarik tongkang
[5] Orderan;pesanan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar